Latest News

Selasa, 16 Agustus 2016

TOKOH PEJUANG KEMERDEKAAN

YOS SUDARSO, GUGUR DEMI MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN


Yos Sudarso
Mungkin, kita lebih mengenal para pahlawan yang mengusahakan kemerdekaan. Namun, selain mereka, ada juga orang-orang yang tak kalah pentingnyaa. Yaitu, para pahlawan yang berusaha mempertahankan kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para pahlwan terdahulu. karena, kemerdekaan Indonesia bukanlah hal yang mudah untuk dicapai, juga dipertahankan. Perjuangan pahlawan pengusaha kemerdekaan akan terasa sia-sia jika pada akhirnya Indonesia tidak dapat mempertahakan kemerdekaan tersebut. Oleh karena itu, yuk kenalan dengan salah satu dari mereka. Saat ini, saya memilih untuk mengangkat sosok Yos Sudarso.

Mengapa saya memilih Yos Suadarso ?  Hmmm..., kenapa ya ? Coba kalian pikirkan. Betapa hebatnya seorang pahlawan yang gugur dalam menjalankan tugasnya. Betapa heroiknya ia. Apalagi gugur dalam keadaan yang mengenaskan. Disaat jasad menjadi tak lagi penting. Hanya pengorbanan dan kebahagiaan rakyatlah yang ada di benak mereka. Dan, secara pribadi saya sangat menyukai laut dan udara, dan gugur di kedua tempat tersebut merupakan sebuah kehormatan yang sangat besar. Oleh karena itu, saya memilih Yos Sudarso untuk menjadi tokoh yang akan saya bahas.

Yos Sudarso, nama yang sering muncul ketika kita membahas usaha pembebasan Irian Barat. Siapakah ia ? Yuk, kita kenalan lebih lanjut…

Jadi, Yos Sudarso adalah salah satu pahlawan yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Apa yang telah ia lakukan ? Ia adalah salah satu orang yang berjuang untuk membebaskan Irian Barat dari penjajahan Belanda. Sungguh mulia bukan ? Ketika Negara kita telah merdeka, ternyata masih ada sebuah tempat bernama Irian Barat yang masih dibelenggu oleh penjajah. Nah, sebagai rakyat Indonesia yang peduli, Yos Sudarso rela berkorban untuk membebaskan wilayah tersebut. Karena, Indonesia merdeka untuk seluruh rakyat dan wilayah Indonesia. Kita tidak pantas menikmati kemerdekaan disaat masih ada saudara-saudara kita yang belum merdeka. Karena, perjuangan memerdekakan Indonesia dilakukan oleh seluruh rakyat Indonesia di seluruh tempat yang diklaim sebagai Indonesia kini.

Sebelum berbicara mengenai perjuangannya, yuk kita mengenal terlebih dahulu pribadi Yos Sudarso ini. Jadi, Yos Sudarso lahir di Salatiga, jawa Tengah pada tanggal 24 November 1925. Artinya, ia masih berusia 20 tahun saat Indonesia merdeka. Kemudian, ia meninggal di usia muda, yaitu 36 tahun, pada tanggal 15 Januari 1962 di Laut Aru saat sedang berjuang, tepatnya di atas KRI macan tutul. Ia menganut agama Kristen. Yos Sudarso menyelesaikan pendidikannya di HIS Salatiga dan melanjutkan dengan bersekolah di sekolah duru di daerah Muntilan. Akan tetapi, ia berhenti saat Jepang dayang dan menjajah Indonesia. Lalu Yos pindah ke sekolah tinggi pelayaran di Semarang dan ikut pendidikan opsir di Giyu Usamu Butai, sebagai salah satu lulusan terbaik. Ia lalu bekerja sebagai mualim kapal milik Jepang. Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia usai, ia masuk di BKR Laut yang kini dikenal sebagai TNI Laut. Ia juga terlibat dalam opersai militer antarpulau di Maluku yang tugasnya memberika informasi mengenai kemerdekaan Indonesia di bagian Indonesia Timur yang masih dijajah Belanda. Wah, berarti rakyat Indonesia Timur harus berterima kasih kepada Yos Sudarso dan teman-temannya. Bisa jadi, tanpa ada mereka, rakyat Indonesia Timur akan kudet mengenai momen proklamasi yang merupakan pucak perjuangan rakyat Indonesia.

Dalam biografinya disebutkan bahwa setelah kedaulatan RI, ia diangkat menjadi komandan kapal. Lalu, ia diamanahkan memimpin KRI Alu, KRI Rajawali, KRI Gajah Mada, dan KRI Pattimura. Tahun 1958, ia menjabat sebagai hakim pengadilan tentara walaupun hanya sekitar 4 bulan. Dalam perjalanan hidupnya, ia pernah mengintai peribangunan kapal perang antara Indonesia dengan Italia di Italia.

19 Desember 1961, presiden Soekarno membentuk TRIKORA (Tri Komando Rakyat) untuk upaya pembebasan Irian Barat yang dijajah oleh Belanda yang ingkar janji dalam KMB . Presiden Soekarno membentuk sebuah komando mandala untuk membebaskan Irian Bara t. Sekarang, di Makassar ada Monumen Mandalam yang di dalamnya terdapat museum yang berisi hal-hal mengenai pembebasan Irian Barat. Sebagai pemimpin operasi pembebasan, Yos mendapatkan amanah yang sangat besar. Dalam melaksanakan tugasnya, ia mengadakan patrol di sekitar daerah perbatasan pada tanggal 15 Januari 1962, tepatnya di Laut Atu dengan 3 kapal motor jenis torpedo boat. Yaitu KRI macan tutul, KRI harimau, dan KRI macan kumbang. Padahal saat itu, keikutsertaannya dalam posisi sebagai KSAL masih dipertanyakan. Karena, seorang Kepala Staff Angkatan Laut tidak lazim langsung turun dalam medan tempur.

Sayangnya, Belanda telah mengetahui rencana tersebut. Kemudian, Belanda menyiapkan dan menyiagakan kapal perusak berupa destroyer dan pesawat pengintai untuk membasmi pasukan Yos. Yos kemudian mengeluarkan perintah bertempur kepada Belanda. Yos memiliki strategi dengan KRI macan tutul di bawah pimpinannya dengan berusaha menarik perhatian kapal Bealnda agar kedua kapal yang lain dapat melarikan diri. Akibatnya, ia tertembak oleh musuh dan KRI macan tutul tenggelam dengan tragis. Yos Sudarso beserta rekan-rekannya gugur dan tenggelam bersama awak kapal.

Untuk menghargai jasa-jasanya, ia dianugerahi gelar pahlawan Pembela Kemerdekaan. Namanya kini diabadikan sebagai nama armada angkatan laut Indonesia, nama pulau, nama jalan-jalan protocol di kota-kota besar Indonesia, dan nama sebuah kedai bakso yang cukup lezat.
Ketika ia gugur, ia meninggalkan seorang istri bernama Siti Kustini. Mereka menikah pada tahun 1955 dan dikaruniai lima orang anak. Namun, dua diantaranya telah meninggal dunia saat itu.
44 tahun setelah Yos Sudarso meninggal, Siti Kustini kemudian meninggal. Ia meninggal pada usia 71 tahun tepatnya pada tanggal 2 September 2006 pukul 14.00 di RS Angkatan Laut Dr Mintohardjo., Jakarta akibat penyakit jantung dan radang paru-paru. Jenazah dimakamkan di TPU Kaliwuluh, Desa Kaliwuluh, Kecamapat Kebak Kramat, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah setelah sebelumnya diberangkatkan dari Jakarta mnuju Surakarta menggunakan pesawat TNI AL dari Bandara Halim Perdana Kusuma.

Berikut kisah gugurnya Yos Sudarso menurut saksi mata yang masih hidup hingga kini…

Pelda pur Andrijan :

Saat itu usianya 24 tahun dan masih berpangkat KLS laut. Ia bergabung dengan TNI-AL dan harus siap ditempatkan dimana saja. Saat itu, ABK yang mendapat tugas layar ke Riau mendapat gaji 15 dollar yang pada saat itu terbilang besar.

Saat itu, Andrijan dimutasi ke Jakarta untuk mengawaki KRI Macan Tutul. KRI Macan Tutul melaju dengan sangat cepat dan membuat para perwira menengah menolak jika diajak naik kapal tersebut karena dapat menyebebkan mual. Awalnya, ia mengira kapal yang berlayar dari Jakarta terseut akan mampir di Surabaya. Namun, dugaannya salah, kapal tersebut tidak berhenti di Surabaya.

Jadi, ketika kapal tersebut lego di sekitar Pangkalan Ambon, Asisten operasi Kepala Staf Angkatan Laut Komodor Yosaphat Soedarso bergabung. Peristiwa tersebut tidak lazim bagi seorang pamen senior on board. Ketika dua kapal destroyer Angkatan Laut Belanda menyerang KRI Macan Tutul, kapal berawak 84 orang itu pun tenggelam. Sebanyak 21 awak kapal gugur di medan perang, termasuk Komodor Yos Sudarso.

Anehnya, dua kapal perang yang mengiringi di depan dan belakang KRI Macan Tutul, yakni KRI Macan Kumbang (653) dan KRI Harimau (654), bisa selamat setelah lolos dari sergapan kapal Belanda.

"Begitu Pak Yos (Komodor Yos Sudarso) menyerukan pesan terakhir berbunyi "kobarkan semangat pertempuran", beliau tertembak saat masih di dalam ruang kemudi anjungan," ungkap Andrijan. Ketika itu, Andrijan berada di geladak terbuka bagian buritan kapal.

Serangan kapal Belanda membuat beberapa bagian KRI macan Tutul terbakar dan akhirnya tenggelam pada dini hari 15 Januari 1962. Dari 84 awak KRI macan Tutul, tidak semuanya tenggelam bersama kapal perang tersebut. Salah satunya adalah Andrijan.

Bapak tiga anak dan empat cucu itu bersama 53 kru kapal lainnya mampu bertahan hidup mengapung di tengah laut. Mereka lalu ditangkap kapal Belanda dan ditahan.
 
Dalam perkembangannya kala itu, berbagai diplomasi dilakukan pejabat negara untuk membebaskan mereka. Berbagai versi sejarah bermunculan. Tidak sedikit yang menyudutkan kebijakan pengiriman personel ke Papua Barat melalui Kaimana. Beberapa petinggi negara menjadi kambing hitam menyusul tenggelamnya KRI Matjan Tutul. "Sebagai bagian dari saksi hidup di tempat terjadinya peristiwa itu (pertempuran Laut Aru, Red), saya pribadi ingin perjuangan Pak Yos Sudarso difilmkan untuk meluruskan sejarah," ujar Andrijan yang sempat berdinas di KRI Irian dan menjadi staf kompi protokol Armatim. Dia pensiun dari prajurit matra laut pada 1986.


Di antara 53 awak KRI yang selamat ketika itu, berdasar data Pangkalan Utama TNI-AL V Surabaya pada peringatan Hari Dharma Samudra 15 Januari 2014, tersisa lima orang yang masih hidup. Selain Andrijan, ada Peltu (pur) Soeharmadji dan Pelda (pur) Soeparman. Keduanya menikmati hari tua di Singosari, Kabupaten Malang, dan Bunul, Kota Malang.

Soejono :

Soejono ikut wajib militer di Surabaya pada tahun 1960 dan diterima di Angkatan Laut. Lalu, setelah menjalani berbagai tes dan penilaian, ia diterima menjadi juru mesih dan ditempatkan di KRI Macan Tutul. Soejono merupakan salah satu orang yang selamat dalam pertempuran laut Aru tersebutnamun menyesal dengan selamatnya itu.

Pak Soejono mulai bercerita. Malam itu dia tidak memiliki firasat apa-apa. Seperti biasa ia hanya bertugas mengurus mesin kapal agar berfungsi dengan optimal. Kapal  baru dibeli dari Jerman itu memang tidak mengalami kendala teknis seperti yang terjadi pada KRI Singa yang urung beroperasi akibat kesalahan teknis. Tapi pada misi rahasia ini dia dituntut memberi jaminan mesin kapal dalam posisi baik.

Dia mengatakan ketika kapalnya berada di sebuah kordinat sekitar Laut Aru, tiba tiba dia mendenngar suara menggelegar di buritan kapal yang membuat kapal itu bergoyang dan oleng. Sejenak kemudian kapal itu mulai terangkat haluannya. Seluruh ABK  panik dan berlarian mengambil posisi masing-masing.

Komodor Yos Sudarso dan Kapten Kapal memilih bertahan di dalam ruang kemudi. Mereka mengikat dirinya pada kemudi kapal bersama dengan surat-surat penting yang dapat mereka raih. Dalam hitungan menit, kapal itu seperti mundur dan mulai tersedot oleh laut. Dalam keadaan cuaca malam dan hujan satu persatu anak buah kapal perang itu lompat jumpalitan ke laut.
 Suara teriakan ABK pun kemudian senyap hilang ditelan arus samudra Arafura yang terkenal dalam dan angker itu. KRI Macan Tutul lennyap seketika tanpa bekas ke dasar samudra membawa seluruh isinya selamanya.

 Pak Soejono bersama dua orang rekannya (dia masih ingat namanya Prada Lucas dan Pratu Herman) berpegangan erat pada benda yang mereka bawa saat mencebur ke laut. Mereka mengikatkan tubuh mereka masing-masing pada benda itu sehingga tetap mengapung meskipun dalam keadaan lelah. Tidak disebutkan benada apakah itu, yang jelas mampu mengapungkan mereka bertiga pada malam itu hingga beberapa hari berikutnya.

 Pada hari ke dua, cuca mendung, badan mereka yang terus menerus basah membuat lapar dan haus tiada tara. Menjelang sore, prada Lucas meninggal dunia akibat kelaparan dan shock. Mereka berdua terpaksa melepaskan prada Lucas dari ikatannya ke laut. Mereka putuskan tidak membawa prada Lucas yang telah menjadi mayat karena akan menganggu keselamatan mereka.

Dengan rasa sedih yang tidak terkira, mereka memandangi temannya itu mengapung sebelum akhirnya tenggelam dan hilang dari pandangan mereka berdua. Hanya doa mereka panjatkan kepada sang Pencipta mengiringi kepergian teman mereka tanpa tembakan salvo kehormatan dan tanpa upacara apapun.

Memasuki hari ke lima, giliran pratu Herman yang meninggal setelah tidak mampu lagi menahan lapar dan kelehan serta kedinginan yang amat sangat. Sekali lagi, kini pak Soejono yang harus melepas sendiri ikatan pratu Herman.

 Kesedihannya kali ini hampir membuatnya putus asa, rasanya ia ingin ikut serta karena tidak mengetahui sampai kapan menemukan harapan untuk hidup. Ia merasakan penderitaan yang tidak bertepi, tak ada tanda-tanda adanya bala bantuan padanya  untuk kembali hidup.

Hari ke Enam, ia mulai makan baju kaos oblongnya sendiri. Hanya itulah makanan yang dia punya. Minum air laut dan mengadahkan wajah ke langit saat hujan datang menerpa. Kondisi berlarut seperti itu tidak mampu mengobati lagi kekuatan hati dan fisiknya  untuk  bersikap normal. Akhirnya ia pingsan tidak sadarkan diri.

Ketika ia terbangun, dia menemukan dirinya sudah terdampar di ujung pulau Sulawesi, tepatnya di daerah Lokon Kabupaten Minahasa Manado, Sulut. Dia ternyata diselamatkan oleh nelayan yang melihatnya mengapung di dekat pantai. Nelayan itu lalu membawanya ke rumah mereka dan merawat pak Soejono selama 10 hari sampai sehat dan kuat kembali.

Ketika dia sudah sehat dan kuat ingatannya barulah dia sadar ternyata dia bertahan hidup di laut dalam keadaan tak ada harapan untuk hidup selama seminggu lamanya, tapi ternyata Tuhan maha penasih dan penyayang memberi takdir lain sehingga pak Soejono diberi panjang usianya sampai kini.


Source :
http://www.tokohindonesia.com/biografi/article/295-pahlawan/1773-gugur-di-atas-kri-macan-tutul
http://www.jpnn.com/read/2014/02/01/214199/Ingin-Perjuangan-Yos-Sudarso-Difilmkan-untuk-Luruskan-Sejarah-/page2
http://www.kompasiana.com/abanggeutanyo/saksi-hidup-kri-macan-tutul-bercerita-heroisme_550174d1a333110d1751130c


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Recent Post